Selasa, 13 Oktober 2015

Prolog



Aku melihat Irina pergi meninggalkanku di balik kursi reot panti. Aku ingin berteriak kepada dua orang dewasa untuk tidak membawa temanku pergi. Aku ingin menangis meraung ,kumohon jangan membawanya pergi ,aku tak memiliki siapapun lagi ,jika dia meninggalkanku di tempat pengasuhan ini .
Tak ada yang mau berteman kepadaku .Mereka semua menyakitiku katanya aku aneh ,apa salahnya bila aku tak bicara ,aku hanya tak tau aku harus berkata apa ,mereka terlalu mengukungku untuk menjadi manis di depan calon orang tua baru ,tapi aku tak mau ,dan mereka tak menyukaiku ,begitupun anak-anak di sini.
Aku menangis di balik kursi reot yang terbuat dari rotan  dan nyaris tak berbentuk lagi saat melihatnya pergi dengan kedua orang tua asuhnya .
Tanpa berniat mencariku apakah aku akan baik baik saja tanpa dirinya.
Kenapa tak ada yang menginginkan aku ?
Kenapa aku di tinggal di sini, aku takut irina .Ku mohon jangan tinggalkan aku.
“hai anak manis kenapa kau bersembunyi di sini “
Suara dan seringai itu membuatku mendongak dan melihat bahwa orang jahat itu ingin menyakitiku lagi .
Wajahnya mengerikan itu membuatku takut setengah mati ,kulitnya bersisik menjijikan dan rambutnya seperti tak pernah tersentuh oleh sisir.
Aku ingin berteriak namun tangan kasar dan bau itu membungkamku terlebih dulu seluruh darah dalam diriku menghilangkan dari wajahku ,aku tak mau mengalaminya lagi, aku tak ingin .
“Tolong aku “
 “tolong aku “aku berteriak namun hanyalah suara gumaman menyedihkan yang keluar dari mulutku.
Aku takut Ibu.
Aku takut ...aku ingin kau Ibu, jika kau benar benar ada, aku ingin kau .Aku ingin pelukanmu sekarang .
Tubuhku meronta namun tenaga pria dewasa ini tak terpengaruh oleh rontaan anak berumur 10 tahun sepertiku .
Hingga tubuhku terpelanting di semak semak hutan dekat panti yang letaknya agak tersembunyi.
Aku takut, seluruh tubuhku gementaran aku membenci bajingan ini aku ingin pergi aku ingin ikut irina .
aku ingin mati .
dan mimpi buruk itu terjadi lagi hingga nyaris menyayat ke ulu hati hingga menjadi serpihan .

Ayah ??

Senin, 14 September 2015

SACRIFICE






Laira Anastasya Willeam

Di balik tawa itu menyimpan deritaku,di balik kesempurnaan itu menyimpan Kekuranganku ,apakah salah kalau aku membencinya ,apakah salah aku menginginkan posisinya ,dia yang merebut semuanya dariku ,namun mampukah aku membencinya kalau dia juga sama tak tau apa-apa sama seperti ku .

Kesakitan itu menutupi semuanya ,rasa benci yang menggelora kepada ibu kandungnya membuat laira membenci keseluruhan keluarga sang ibu .Namun laira sadar di balik benci itu dia menyimpan rasa kepada sang kakak tiri .Walaupun dia sangat membenci bunda yang dulu meninggalkannya, di lubuk hati laira dia sangat merindukan kasih sayang orang ibu ,hingga ia membuang rasa benci itu untuk kehidupan yang baru,di sadar lukanya akan tetap berdarah bila dia masih menyimpan api yang membara dalam dirinya.

Namun bagaimana jika  ketidaksempurnaan yang ada pada dirinya justru membuat ia kembali hancur untuk kedua kalinya,setelah dia berfikir ada sedikit harapan akan semua mimpinya .dan saat semuanya terungkap semuanya sudah sangat terlambat .

Laira
Aku hanya ingin merasakan rasanya pulang kerumah ,karena di luar sana kehiduan sangat kejam terhadapku.

Mampukah ia memaafkan kembali ??